Blog Toko
Temukan event, kabar terbaru, dan promosi terbaru di sini!
Sep 17, 2021
Penyakit Lisan dan Bahayanya


Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menjelaskan, Allah mengasihi orang yang berbicara lalu mendapat keuntungan, atau yang diam lalu selamat. "Lidah adalah sesuatu yang paling berkuasa atas manusia," tegas beliau.


Rasulullah SAW kemudian menambahkan, "Ketahuilah bahwa seorang hamba mendapat kejelekan dari lidahnya, kecuali berzikir kepada Allah, menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau mendamaikan di antara dua orang Mukmin (yang berselisih)."


Tak puas dengan keterangan Rasulullah itu, Mu'adz bin Jabal kemudian bertanya kepada beliau, "Ya Rasulullah, apakah kami disiksa karena apa yang kami ucapkan?"


Rasulullah menjawab, "Bukankah yang mencampakkan manusia ke dalam neraka adalah lidah-lidah mereka? Barangsiapa menghendaki keselamatan, maka jagalah ucapan lidahnya. Hendaklah ia menjaga apa yang dibisikkan hatinya pada lidahnya. Hendaklah ia berbuat baik dan memendekkan angan-angan."


Hadis Nabi SAW yang dikutip Ibnu 'Arabi dalam Wasiat-wasiat itu menjelaskan bahwa bahaya lidah amatlah besar. Tidak ada orang yang dapat selamat dari bahayanya kecuali dengan diam.


Artinya, lidah bisa menjerumuskan kita ke jurang yang sangat mencelakakan kehidupan, kalau kita tidak mampu menjaganya. Keselamatan kita di dunia dan akhirat tergantung bagaimana kita menjaga lidah yang tak bertulang itu.


Rompi Hoodie Mauve


Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengingatkan kita beberapa bahaya penyakit lidah. Antara lain, bertengkar, berdebat kusir, berbelit-belit, memaki, mencaci, membuat janji palsu, berdusta dalam ucapan dan sumpah, melaknat kepada binatang maupun kepada manusia.


Lalu menyebarkan rahasia orang lain, mengatakan sesuatu dan mengulang-ulang pembicaraan yang tidak ada manfaatnya sehingga menyia-nyiakan umur, menambah kata-kata yang tidak perlu, bersenda gurau yang menimbulkan pertengkaran, mengolok-ngolok, menghina, mengadu domba, dan memuji orang sehingga menimbulkan riya.


Kecuali itu, bergunjing (gibah) juga termasuk penyakit lidah yang sangat berbahaya. Nabi saw berkata, "Janganlah sekali-kali kamu bergunjing, sebab gunjingan lebih berat daripada perzinahan. Karena, jika seseorang berzina lalu bertobat, maka Allah mengampuninya. Sementara penggunjing tidak diampuni sebelum orang yang dipergunjingkan memaafkannya."


Dalam kehidupan sehari-hari, kiranya kita perlu mengingat wahyu Allah yang turun kepada Nabi Musa, "Barangsiapa yang mati dalam keadaan bertobat dari gunjingan, maka ia adalah orang terakhir yang memasuki surga. Dan barangsiapa yang mati dalam keadaan melakukan gunjingan, maka ia adalah orang pertama yang memasuki neraka." Semoga kita terhindar dari bahaya penyakit lidah.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/prunjl458/penyakit-lisan

Produk yang Diulas :
Rompi Hoodie Mauve Khaleed Apparel
Sep 17, 2021
Larangan Berlebihan dalam Memuji dan Dipuji


Tidak boleh memuji secara berlebihan


Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seseorang yang memuji orang lain di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ


“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.” 


Kalimat ini diucapkan oleh beliau berulang kali, kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ


“Siapa saja di antara kalian yang tidak boleh tidak harus memuji saudaranya, hendaklah dia mengucapkan, “Aku mengira si fulan (itu demikian), dan Allah-lah yang lebih tahu secara pasti kenyataan sesungguhnya, dan aku tidak memberikan pujian ini secara pasti, aku mengira dia ini begini dan begitu keadaannya”, jika dia mengetahui dengan yakin tentang diri saudaranya itu (yang dipuji).” (HR. Bukhari no. 2662 dan Muslim no. 3000)


Dengan kata lain, ketika kita memuji seseorang kita bisa menggunakan kalimat semacam, “Sebatas yang saya tahu … “; atau “Kalau berdasarkan lahiriyahnya, dan Allah-lah yang lebih tahu, bahwa si fulan itu orang yang baik … “; atau ungkapan-ungkapan semacam itu.


Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang memuji orang lain secara berlebihan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَهْلَكْتُمْ – أَوْ قَطَعْتُمْ – ظَهَرَ الرَّجُلِ


“Engkau membinasakan atau Engkau memotong punggung kawanmu itu.” (HR. Bukhari no. 2663 dan Muslim no. 3001)



Berlebihan dalam memuji ini bisa terjadi karena beberapa hal, di antaranya:


Pertama, pujian berlebihan dalam arti tidak ada pujian tersebut dalam diri seseorang yang dipuji (asal memuji saja, serampangan). Yaitu pujian dengan bumbu-bumbu kebohongan atau pujian dengan rekayasa. Misalnya, memuji orang lain sebagai orang dermawan, padahal tidak demikian faktanya.


Ke dua, pujian berlebihan karena orang yang dipuji tidak selamat dari sikap ujub (bangga terhadap diri sendiri) atau dia menjadi terlalu ge-er dengan pujian tersebut. Dia menyangka bahwa dirinya memiliki sifat atau kedudukan sebagaimana dalam isi pujian tersebut, sehingga pada akhirnya dia tidak mau lagi beramal dan tidak mau berbuat kebaikan karena merasa puas dengan pujian yang dia terima. (Lihat Fathul Baari, 10: 477 karya Ibnu Bathal)


Pujian yang mengada-ada inilah yang menurut penjelasan ulama merupakan maksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 


إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ، فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمِ التُّرَابَ


“Jika Engkau melihat orang yang memuji, maka taburkanlah debu di wajahnya.” (HR. Muslim no. 3002)


Dalam riwayat lain dari sahabat Al-Miqdad radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,


أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نَحْثِيَ فِي وُجُوهِ الْمَدَّاحِينَ التُّرَابَ


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah di muka orang yang memuji-muji.” (HR. Muslim no. 3002)


‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,


المدح هو الذبح


“Pujian adaah sembelihan.” (Fathul Baari, 10: 477 karya Ibnu Hajar)


Kaos Setelan Anak Muslim Palestine


Jika tidak mengandung unsur terlarang di atas, tidak masalah jika memuji orang lain di hadapannya


Adapun jika pujian tersebut tidak mengandung unsur-unsur terlarang di atas, maka tidak mengapa. Sebagaimana perbuatan atau ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memuji sebagian sahabatnya.


Diriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’d, beliau mengatakan,


سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لِحَيٍّ يَمْشِي، إِنَّهُ فِي الْجَنَّةِ إِلَّا لِعَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ


“Aku mendengar ayahku berkata, “Aku belum pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seseorang yang berjalan di muka bumi ini bahwa dia adalah calon penghuni surga kecuali kepada ‘Abdullah bin Salam.” (HR. Bukhari no. 3812 dan Muslim no. 2483)


Dalam hadits di atas, terdapat pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau adalah penghuni surga.


Juga sebagaimana pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Abu Bakr bukanlah orang yang sombong. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّكَ لَسْتَ مِنْهُمْ


“Engkau bukan termasuk mereka (orang-orang yang sombong).” (HR. Bukhari no. 6062)


Sehingga hadits-hadits pujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sebagian sahabatnya adalah pengeculian dari hadits-hadits beliau yang merang untuk memuji orang lain. 



An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata ketika menjelaskan kompromi dua jenis hadits di atas,


وَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيث كَثِيرَة فِي الصَّحِيحَيْنِ بِالْمَدْحِ فِي الْوَجْه . قَالَ الْعُلَمَاء : وَطَرِيق الْجَمْع بَيْنهَا أَنَّ النَّهْي مَحْمُول عَلَى الْمُجَازَفَة فِي الْمَدْح ، وَالزِّيَادَة فِي الْأَوْصَاف ، أَوْ عَلَى مَنْ يُخَاف عَلَيْهِ فِتْنَة مِنْ إِعْجَاب وَنَحْوه إِذَا سَمِعَ الْمَدْح . وَأَمَّا مَنْ لَا يُخَاف عَلَيْهِ ذَلِكَ لِكَمَالِ تَقْوَاهُ ، وَرُسُوخ عَقْله وَمَعْرِفَته ، فَلَا نَهْي فِي مَدْحه فِي وَجْهه إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ مُجَازَفَة ، بَلْ إِنْ كَانَ يَحْصُل بِذَلِكَ مَصْلَحَة كَنَشَطِهِ لِلْخَيْرِ ، وَالِازْدِيَاد مِنْهُ ، أَوْ الدَّوَام عَلَيْهِ ، أَوْ الِاقْتِدَاء بِهِ ، كَانَ مُسْتَحَبًّا . وَاللَّهُ أَعْلَم .


“Terdapat banyak hadits dalam shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) tentang (bolehnya) memuji orang lain di hadapannya. Para ulama mengatakan, metode untuk mengkompromikan hadits-hadits di atas adalah bahwa hadits yang melarang itu dimaksudkan untuk orang yang berlebihan (serampangan) dalam memuji, atau pujian yang lebih dari sifat yang sebenarnya, atau pujian yang ditujukan kepada orang yang dikhawatirkan tertimpa fitnah berupa ujub dan semacamnya ketika dia mendengar pujian kepada dirinya. 


Adapun orang yang dikhawatirkan tidak tertimpa fitnah tersebut, baik karena bagusnya ketakwaannya dan kokohnya akal dan ilmunya, maka tidak ada larangan memuji di hadapannya, itu pun jika pujian tersebut tidak pujian yang serampangan. Bahkan jika pujian tersebut menimbulkan adanya maslahat, misalnya semakin semangatnya dia untuk berbuat kebaikan dan meningkatkan kebaikan, atau kontinyu dalam berbuat baik (misalnya pujian yang ditujukan kepada anak-anak, pent.), supaya orang lain pun meneladani orang yang dipuji tersebut, maka (jika ada maslahat semacam ini) hukumnya dianjurkan.” (Syarh Shahih Muslim, 9: 382)


Berdasarkan penjelasan An-Nawawi di atas, maka pujian kepada anak-anak kecil (anak TK) yang pujian ini bisa membangkitkan motivasi mereka untuk terus belajar dan berbuat baik, hukumnya dianjurkan. 


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




Sumber: https://muslim.or.id/47721-larangan-berlebihan-dalam-memuji.html

Produk yang Diulas :
[Glow in the dark] Kaos Setelan Anak Muslim " Freedom For Palestine "
Sep 17, 2021
Alasan Mengapa Cinta Dunia Dianggap Pangkal Kesalahan?


Cinta dunia di sini adalah kondisi seseorang mencintai kesenangan dunia baik berupa harta, wanita, atau takhta sehingga membutakan hatinya dan lalai terhadap akhirat. (Lihat QS Al A’la 16-17, Al Qiyamah 20-21). 


Al Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al Iman meriwayatkan hadis berbunyi, “Hubbuddunya ra’su kulli khathi’ah (cinta dunia adalah biang semua kesalahan).  


Cinta dunia yang sudah membutakan hati mendorong seseorang berani korupsi, merampok, berjudi, dan melakukan kemaksiatan lainnya.  

Rasulullah bersabda, “Tiadalah cinta dunia itu menguasai hati seseorang, kecuali dia akan diuji dengan tiga hal, yakni cita-cita tak berujung, kemiskinan yang tak akan mencapai kecukupan, dan kesibukan yang tidak lepas dari kelelahan.” (HR Ad Dailami ).


Allah SWT juga menimpakan berbagai musibah kepada suatu kaum jika cinta dunia mendominasi relung hati mereka.


Rasulullah bersabda, “Umatku akan selalu dalam kebaikan selama tidak muncul cinta dunia kepada para ulama fasik, qari yang bodoh, dan para penguasa. Bila hal itu telah muncul, aku khawatir Allah akan menyiksa mereka secara menyeluruh.” (Lihat kitab Ma’rifat As Shahabah karangan Abi Nu’aim, juz 23 hal 408).


Rasulullah mengkhawatirkan masa depan umat ini bila umatnya menguasai dunia. Beliau bersumpah, “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan, tapi aku khawtir seandainya dunia ditaklukkan kamu sekalian seperti ditaklukkan orang-orang sebelum kamu, akibatnya kamu berlomba mencari dunia seperti mereka berlomba dan dunia pun menghancurkan kamu seperti menghancurkan mereka (HR Bukhari dan Muslim).


Mengapa cinta dunia disebut sebagai pangkal semua bentuk dosa dan kesalahan serta merusak keberagamaan seseorang? Ini bisa ditinjau dari beberapa aspek.


Kaos Setelan Anak Muslim The Next Al Fatih


Pertama, mencintai dunia yang berlebihan akan menimbulkan sikap mengagungkannya.

Padahal, dunia di hadapan Allah sangat rendah. Mengagungkan apa yang dianggap hina oleh Allah termasuk dosa besar.


Kedua, Allah melaknat dunia dan membencinya, kecuali dunia yang digunakan untuk kepentingan agama-Nya.

Siapa mencintai yang dilaknat Allah, dia dibenci Allah dan diuji-Nya. Ad Daylami meriwayatkan hadis yang menyatakan, dosa besar yang paling besar adalah cinta dunia.


Ketiga, kalau seseorang cinta dunia berlebihan, dunia jadi sasaran akhir hidupnya.

Orang itu akan menjadikan akhirat sebagai sarana mendapatkan dunia. Seharusnya, dunia ini dijadikan wasilah untuk menanam investasi akhirat.


Keempat, mencintai dunia akan menghalangi seseorang dari urusan akhirat.

Selain itu, menghalangi mereka dari keimanan dan syariat. Cinta dunia bisa merintangi mereka menjalankan kewajiban atau minimal malas berbuat kebajikan.


Kelima, mencintai dunia mendorong kita menjadikan dunia sebagai orientasi hidup.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah memberikan kekayaan dalam hatinya, mengumpulkan semua usahanya, dan dia akan dihampiri dunia walaupun dia enggan. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menjadikan kefakiran di depan matanya dan menceraiberaikan usahanya dan tidak dibagikan dunia kepadanya, kecuali yang sudah ditakdirkannya.” (HR At Turmudzi).


Keenam, pencinta dunia disiksa berat dalam tiga tahapan. Di dunia tersiksa dengan berbagai kepayahan dalam mencarinya, di alam kubur merasa sengsara karena harta dunia yang telah dicarinya tidak dibawa ke alam barzah.

 

Dan di alam akhirat, dia akan menjumpai kesusahan berat saat dihisab. Siksa inilah yang ditegaskan surah at-Taubah ayat 55.


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://republika.co.id/berita//q7f703320/alasan-mengapa-cinta-dunia-dianggap-pangkal-kesalahan

Produk yang Diulas :
Kaos Setelan Anak Muslim " The Next Al Fatih "
Sep 16, 2021
Dosa - Dosa Yang Dianggap Biasa


Seorang anak di Madinah membuat ibunya kerap gelisah. Sang anak terus saja memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Sang anak terus bermunajat kepada Rabb-Nya, hingga ratapannya terdengar begitu keras saat orang-orang lelap dalam tidurnya.


Sang ibu bertanya-tanya, apakah yang sedang terjadi pada anaknya? Kemudian, ia memanggil sang anak dan bertanya padanya. "Ada apakah denganmu? Apakah engkau melakukan sesuatu yang menyebabkan Allah murka?" tanyanya.


Sang anak menjawab, "Benar ibu, aku telah membunuh satu jiwa." Demi mendengar pengakuan anaknya, sang ibu terperanjat hebat. "Siapakah orang itu wahai anakku? apakah kita bisa meminta maaf kepada keluarganya? Demi Allah, jika mereka tahu bagaimana engkau meratapinya setiap hari pasti mereka mengasihimu."


Dengan tenang dan lembut, sang anak berkata, "Ibu, janganlah engkau bilang kepada siapa pun. Sesungguhnya, aku telah membunuh jiwaku sendiri. Aku telah membunuhnya dengan berbagai dosa."


Anak muda ini kelak akan menjadi bintang gemintang dari generasi tabiin. Ia adalah murid yang paling utama dari Abdullah bin Mas'ud RA. Namanya, Ar-Rabi bin Khutsaim. Ia digelari ahli zuhud yang pendiam dan berilmu.


Petikan kisah dalam Ashrut Tabi'in itu seharusnya menyentak kesadaran kita. Seseorang yang masih sangat muda, sudah sangat paham bagaimana akibat perbuatan dosa yang manusia lakukan. Pada taraf tertentu jika dosa sudah mengunung tanpa kita kikis dengan tobat, mungkin ia sama saja telah membunuh jiwa kita.


Seperti orang yang sudah mati, jiwa kita tak lagi bisa merasa. Tak sanggup lagi mengenali. Mana yang baik dan manakah yang buruk. Jiwa yang mati hanya teronggok tak berdaya untuk mencerna sebuah kebaikan atau bahkan menelan mentah-mentah sebuah kebatilan.



Menumpuknya dosa perlahan membuat jiwa sakit. Jika tak kunjung menadapat obat, ia lama-kelamaan akan sekarat. Tak ada yang lagi berguna jika kemudian ia berujung kematian. Ini sebuah pengingat besar, jangan-jangan kita sudah menganggap sebuah dosa menjadi biasa.


Meninggalkan shalat seolah dianggap sebuah rutinitas, biasa saja. Membantah orang tua seperti pekerjaan harian. Tak ada sesal, mungkin justru terbersit bangga. Berbuat zina kadung dianggap tanda cinta. Alasannya, banyak yang melakukannya. Pria menyukai pria dan wanita berhasrat pada sesama dianggap gaya hidup. Seolah, memperjuangkannya adalah salah satu nilai kepahlawanan.


Kita hidup di dunia yang mulai menganggap dosa sebagai sebuah hal yang biasa. Dianggap biasa karena mungkin tidak ada lagi terminologi dosa dalam kehidupan. Semua hal yang dilakukan sudah bebas nilai. Tak boleh terkekang aturan-aturan agama. Apakah hal seperti ini yang ingin kita perjuangkan?


Apa jadinya jika manusia hidup tanpa aturan? Kerusakan akan merajalela. Bukankah ini yang memang menjadi kekhawatiran para malaikat saat makhluk lemah bernama manusia ditunjuk menjadi khalifah? Fitrah jiwa ingin berada dalam ketentraman. Bagaimana jadinya jika merampas, merampok, memperkosa dibiarkan dengan alasan bebas nilai? Tunggu saja kerusakan besar yang akan segera menyapa.


Lalu, apakah manusia benar-benar harus bebas dari dosa? Tentu saja tidak. Hanya Rasulullah SAW manusia yang terjaga dari kealpaan. Allah SWT menyiapkan ujian dan tentu saja menyiapkan ganjaran. Allah SWT juga menyiapkan mekanisme agar kita bisa mencuci segudang kealpaan yang kita lakukan di masa silam.


Kaos Setelan Anak Muslim 5 Rukun Islam


Mari kita simak bagaimanakah kasih sayangnya Allah terhadap hambanya yang serius ingin memperbaiki diri. Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka, kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan." (QS az-Zumar [39]:53-54).


Lihatlah bagaimana Allah SWT justru mengundang orang-orang yang berbuat dosa untuk datang kepada-Nya. Allah SWT membuka pintu maaf seluas-luasnya bagi orang yang ingin kembali. Hal ini berbeda 180 derajat jika kita berbuat kesalahan kepada manusia. Bertemu dengan orang tersebut saja kita merasa malu. Tapi, apa jadinya jika kita berbuat kesalahan, tapi justru disambut dengan hangat oleh orang tersebut?


Begitulah Allah SWT memperlakukan hamba-Nya.Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Toh, setiap kita yang tampak alim sekali pun pasti tak luput dari setiap dosa-dosa yang terus mengintai. Datanglah kepada Allah dan pasti Allah akan menerima tobat kita. "Dan, barang siapa yang bertobat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima tobatnya." (QS al-Furqaan [25]: 71). Allahu a'lam. Oleh Hafidz Muftisany


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/o2s0g75/saat-dosa-dianggap-biasa

Produk yang Diulas :
Kaos Setelan Anak Muslim " The 5 Pillars Of Islam "
Sep 16, 2021
Hati-hati Sifat Munafik Tanpa Sadar


Sahabat, semakin meningkatnya keimanan seseorang maka semestinya semakin takut pula ibadahnya tidak diterima Allah SWT.


Seperti yang dijelaskan Ustaz Abdul Barr Kaisinda dalam kajiannya di Masji Al Azhar, Cempaka Putih III, Jakarta Pusat, bahwa Allah SWT telah berfirman dalam Alquran Surah Al Baqarah ayat 8 yang artinya :


"Di antara manusia ada yang mengatakan : "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman."


Ustaz Abdul menjelaskan, bahwa seorang Muslim harus berhati-hati terhadap diri sendiri sebelum terhadap orang lain karena sifat munafik bisa datang tanpa kita sadari.


Kaos Setelan Anak Salahuddin Al Ayyubi


"Jangan lihat orang lain, lihat diri sendiri dulu. Jangan-jangan sudah ada poin-poin kemunafikan dalam diri, atau bahkan sudah terjerumus ke dalamnya," kata Ustaz Abdul, Kamis (5/9/2019) malam.


Menurutnya, orang munafik biasanya ibadah tidak maksimal karena sudah merasa tenang ada Allah yang Maha Pengampun.


Berbeda dengan ciri-ciri orang mukmin yang dikatakan Rasulullah SAW, mereka beribadah lahir batin dengan maksimal baik secara kualitas ataupun kuantitas, tetapi selalu khawatir ibadahnya tidak akan diterima Allah. 


Jadi, jangan merasa puas karena sudah beribadah banyak. Karen semakin meningkatnya keimanan semakin dekat juga dengan kemunafikan. "Selalu meminta kepada Allah agar diberi kekuatan dan kemantapan dalam beribadah dan beriman," ujar Ustaz Abdul.


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://umma.id/post/hati-hati-sifat-munafik-tanpa-sadar-319178?lang=id


Produk yang Diulas :
Kaos Setelan Anak Muslim " Salahuddin Al Ayyubi "
Sep 16, 2021
Inilah Perbedaan Ujian, Musibah, dan Azab


Setiap orang beriman pasti akan di uji oleh Allah. Baik ujian kebaikan, keburukan, kebahagiaan, kesulitan, kesempitan, kelapangan, dan lain-lain. Allah akan menguji hamba-Nya sesuai dengan tingkatan keimanan dan kemampuannya.


Berikut ini penjelasan lengkapnya mengenai perbedaan ujian, musibah dan azab. Simak selengkapnya.


1. Ujian


Ibtila’ adalah ujian yang secara bahasa berarti ikhtibar (penyelidikan) dan imtihan (percobaan), baik berupa kesulitan maupun kesenangan, kebaikan maupun keburukan.

Allah memberikan ujian kepada manusia dengan tujuan menguji siapa hamba-Nya yang bersyukur atas ujian nikmat yang diperoleh dan siapa yang bersabar atas kesulitan yang menimpanya, agar diketahui siapa diantara hamba-Nya yang paling baik amalnya.


Firman-Nya dalam Surat Al-Anbiya ayat 35,


وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


Artinya: “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)


Firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 168 yang artinya: “Dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk.” (QS. Al A’raf: 168)


Firman Allah dalam Surat Al-Kahfi ayat 7 yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al Kahfi: 7)


Ibnu Katsir mengatakan bahwa, makna “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)”, artinya terkadang Allah menguji dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan, agar Allah mengetahui orang-orang yang bersyukur dari orang-orang yang kufur, orang-orang yang bersabar dari orang-orang yang berputus asa.


Sebagaimana perkataan Ali bin Thalhah dari Ibnu Abbas yang artinya: “Dan Kami menguji kalian”, dia mengatakan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (cobaan), dengan kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan… sedangkan firman-Nya yang berarti “dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”, adalah Kami akan memberikan ganjaran (balasan) atas amal kamu. (Tafsir Al Qur’an Al Azhim juz V hal 342)


Ujian yang diberikan oleh Allah, disesuaikan dengan kadar dan kualitas keimanan seseorang serta sebagai sarana untuk menambahkan pahala bagi orang-orang yang bersabar. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari disebutkan bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi.


Seseorang terkadang sanggup bertahan di dalam keimanan saat mendapatkan kesulitan, akan tetapi hilang imannya tatkala mendapatkan kesenangan. Ujian apapun yang Allah berikan pada kita, bersyukur dan bersabarlah.


Karena, setiap ujian yang Allah timpakan pada seorang mukmin sebagai pembersih dosa dan kesalahannya di dunia, sehingga tidak ada lagi siksa atas dosanya di akhirat. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Tidaklah seorang mukmin atau mukminah yang ditimpa suatu bala’ (cobaan) sehingga ia berjalan di bumi tanpa membawa kesalahan.”

“Senantiasa cobaan itu datang menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa ada satupun dosa pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2399)


2. Musibah



Apabila ujian dan cobaan itu bisa berbentuk kesenangan atau kesulitan, sedangkan musibah biasanya berbentuk sesuatu yang tidak disukai. Musibah secara bahasa, identik dengan teguran atau peringatan yang sudah menjadi ketentuan Allah, terjadi karena kesalahan yαng kita perbuat.

Apabila Allah menghendaki kebaikan, maka Allah akan menyegerakan hukuman. Ditegur di dunia sehingga ia menjadi lebih baik dan suci dari dosa. Tapi apabila Allah tidak mencintai hamba-Nya, maka Ia akan tunda hukumannya dan ditunaikan di akhirat kelak sebagai akibat dari perbuatan dosa yang dilakukannya.


Firman Allah dalam surat An-Nisaa ayat 79,


مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ


Artinya: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisaa: 79)


Firman Allah dalam surat Asy-Syura ayat 30,


وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ


“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)


”Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah seorang mukmin ditimpa kegalauan, kesedihan, kepayahan bahkan duri yang menancap padanya kecuali dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (Tafsir Al-Qur’an Al Azhim juz II hal 363)


Orang-orang yang bersabar ketika mendapat musibah dan menjadikannya sebagai upaya perbaikan diri untuk lebih mendekat pada-Nya makan akan mendapat ampunan di sisi-Nya.


“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat pengampunan dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS Al Baqarah: 155-157)

Musibah yang terjadi pada diri kita, harus disyukuri sebagai sarana introspeksi. Manusia tidak pernah luput dari kekhilafan. Janganlah menjadi orang yang lemah imannya seperti surat Al Hajj ayat 11 yang maknanya, dia hanya akan beriman apabila diberi kesenangan tapi mudah berbalik menjadi kafir ketika mendapat bencana atau musibah.

Musibah dan ibtila’ atau ujian hanyalah menimpa orang-orang mukmin, sedangkan musibah untuk orang kafir disebut azab.


Kaos Setelan Anak Muslim Follower Of Muhammad


3. Azab


Azab Allah yang diberikan kepada orang-orang kafir, baik di dunia maupun akhirat.


وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


Artinya: “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. As Sajadah : 21)


“Orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS Ar Ra’du: 31)


“Wahai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kalian menjadi jahat sehingga kalian ditimpa musibah (azab) seperti yang menimpa kaum Nuh, kaum Hud, atau kaum Shalih. Sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kalian.” (QS Hud: 89)


“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 16)


Didalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidaklah menzhalimi seorang mukmin, diberikan kepadanya kebaikan di dunia dan disediakan baginya pahala di akherat. Adapun orang yang kafir maka ia memakan dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukannya di dunia sehingga ketika dia kembali ke akherat maka tidak ada lagi satu kebaikan pun sebagai ganjaran baginya.“ (HR. Muslim)


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://islamic-center.or.id/inilah-perbedaan-ujian-musibah-dan-azab/


Produk yang Diulas :
Kaos Setelan Anak Muslim " Follower of Muhammad "
Sep 16, 2021
Rasa malunya seorang wanita adalah mahkota

Rasa malu seorang wanita akan menjaganya dari hal-hal yang melenceng dari aturan. Jika dirasakan, alangkah indahnya rasa malu yang tertanam pada diri wanita muslimah. Rasa malu itulah yang melindunginya, rasa malu itulah yang menjadikan wanita sebagai perhiasan yang hanya dilihat oleh segelintir lelaki. Kata Sayyidah Aisyah wanita harus membentengi dirinya, bukan sombong seperti yang terlihat. Tapi kesombongan untuk menjaga kodratnya, keindahannya yang hanya diperuntukkan bagi mahramnya.


Muslimah. Foto: Unsplash


Malu adalah Bagian Dari Iman


Rasa malu dikemukakan dalam beberapa hadits. Hadist pertama adalah (HR Al Hakim pada Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhori Muslim, begitu pula Adz-Dzahabi) meriwayatkan bahwa Iman dan malu itu beriringan secara bersamaan. Jika salah satunya terangkat maka yang lain terangkat pulalah. Hal tersebut dikutip dari muslimah.or.id. Hadist kedua menjelaskan begian-bagian dari keimanan adalah rasa malu. Rasulullah bersabda bahwa cabang dari iman itu 70 atau 60. Cabang yang paling tinggi adalah Lailahillah Muhammad Rasulullah, cabang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang menggangu di jalanan. Dan Malu itu adalah bagian dari iman.


Kurta Long Cordova Anak Cream


Malunya Seorang Wanita


Malunya seorang muslimah merupakan mahkota bagi dirinya. Semakin ia malu semakin tinggilah kehormatannya. Karena dari rasa malu terjagalah dirinya dari pandangan setiap orang. Sesungguhnya Allah menciptakan wanita layaknya sebuah perhiasan dunia. Perhiasan yang semakin mahal, yang hanya dapat dimiliki segelintir orang. Pemiliknya akan menyimpan sedemikian rupa agar tak terjamah dan dicuri orang. Bahkan jika dikenakan perhiasan akan dibarengi dengan baju yang mewah, tak sembarang baju bisa bersanding dengan perhiasan tersebut. Begitulah rasa malu seorang wanita yang membuat dirinya nampak misterius, istimewa tanpa terjamah sebarang orang.


Kemuliaan Sifat Malu


Sifat malu merupakan sifat yang mulia. Dalam HR. At-Tirmidzi, Al Hakim, Al Baihaqi meriwayatkan bahwa Malu adalah bagian dari iman, dan iman itu akan ditempatkan di surga. Diriwayatkan juga dari Abu Dawud dinyatakan Shahih oleh Al Albani Rasulullah bersabda bahwa Sesungguhnya Allah Maha Malu dan Maha Dermawan. Allah malu terhadap hamba-Nya yang mengangkat tangan kepada-Nya dan kembali dalam keadaan hampa. Rasulullah juga bersabda dalam HR Abu Dawud yang dinyatakan Shahih oleh Al Albani bahwa Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup Aib, Allah pun menyukai sifat malu dan menyukai sifat penutup aib.


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://muslima.hops.id/rasa-malunya-seorang-wanita-adalah-mahkota/

Produk yang Diulas :
Kurta Long Cordova Anak Cream Khaleed Apparel
Sep 16, 2021
Jalan Pintas Menuju Surga


Allah SWT telah menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Begitu banyak dalil dari Al quran dan hadis yang menggambarkan betapa besarnya nikmat yang bakal diperoleh para peng huni surga kelak.

Namun demikian, proses masuknya kaum Muslim ke dalam surga tidak selalu sama antara satu dan yang lainnya. Ada yang dimudahkan oleh Allah, ada pula yang harus melalui proses hisab yang pan jang.


Dalam kajian Islam yang di gelar di Masjid at-Tarbiyah Ci lan dak Barat, Jakarta Selatan pada akhir pekan lalu, Ustaz Mu hammad Nuzul Dzikri Lc menga takan, ada beberapa jalan pintas menuju surga yang disediakan Allah untuk para hamba-Nya yang beriman. Di antara jalan pintas itu adalah dengan menuntut ilmu agama.


Hal itu diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, "Barang siapa yang berjalan da lam rangka menuntut ilmu aga ma, Allah akan memudahkannya ke surga," (HR Muslim). Menurut Dzikri, hadis tersebut sekaligus menyiratkan akan pentingnya kedudukan ilmu agama dalam kehidupan seorang Muslim.


Dia menuturkan, pengetahu an agama salah satunya bisa di peroleh dengan menghadiri maje lis ilmu yang diselenggarakan di masjid-masjid ataupun tempattempat lainnya. "Sayangnya, saat ini masih banyak dari kaum Muslim yang enggan meluangkan waktu mereka untuk mengikuti majelis ilmu dengan berbagai macam alasan duniawi. Padahal, amalan ini dapat menjadi jalan pin tas bagi mereka menuju sur ga," ujar Dzikri.


Dai lulusan Universitas Islam Madinah Arab Saudi itu menje las kan, menuntut ilmu agama pada dasarnya adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Hal itu seperti disabdakan Rasulullah SAW dalam hadisnya, "Menuntut ilmu itu fardhu atas setiap Mus lim." (HR Ibnu Majah, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan Ibnu Majah No 224).


Kurta Ammar Anak Hijau


Karena hukumnya yang wajib itu, kata Dzikri, orang yang me ngerja kan amalan tersebut (mempelajari agama—Red) dengan ikhlas akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Sementara, me reka yang meninggalkannya tan pa alasan syar'i, akan berdosa. Dia mengungkapkan, amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang hukumnya wajib.


Dalam satu hadis qudsi, Allah SWT berfirman, "Dan, tidak ada satu pun amalan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Ku yang le bih Aku cintai dibandingkan amal an yang aku wajibkan kepa da mereka." (HR Bukhari). "Dengan kata lain, orang yang mempelajari ilmu agama dengan ikhlas akan memperoleh cinta dari Rabbnya. Itu disebabkan kecintaan Allah yang begitu besar terhadap amalan wajib yang ia kerjakan itu," ucapnya.


Dzikri mengatakan, mereka yang menghadiri kajian Islam untuk menambah pengetahuan agamanya termasuk orang-orang yang beruntung. Sebab, ilmu yang mereka peroleh dari majelis itu sangatlah mahal harganya. Imam az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'liim Muta'allim menuliskan, jika seorang murid hendak memberikan hadiah kepada gurunya, satu ayat yang ia dapatkan dari sang guru layak dihargai 1.000 dirham.


"Ungkapan az-Zarnuji itu menunjukkan betapa mahalnya ilmu agama itu jika diukur dengan harta di dunia ini. Jadi, alangkah meruginya ketika kita punya kesempatan untuk menuntut ilmu agama, tapi malah tidak mengerjakannya," ujar Dzkiri. Dia menambahkan, andai saja setiap Muslim menyadari akan keutamaan mempelajari agama ini, niscaya mereka tidak akan mau melewatkan satu kesempatan pun untuk menghadiri majelis-majelis taklim. Apalagi, Allah telah menjanjikan kemudahan masuk surga bagi mereka yang melakukan amalan mulia tersebut.


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :





SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/ou7vjw313/jalan-pintas-menuju-surga

Produk yang Diulas :
Kurta Ammar Anak Hijau Khaleed Apparel
Sep 15, 2021
Setiap Kita Akan Menyesal


Percayakah Anda, bila Saya katakan bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali apakah ia orang baik atau tidak baik, akan merasakan penyesalan? Mungkin Anda bertanya, bagaimana orang baik merasakan penyesalannya? Dan untuk hal apa ia menyesal?


Bagi mereka yang muslim, tentunya sangat hafal dengan sebuah surat pendek QS Al ‘Ashr (waktu) berikut ini:


Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS Al ‘Ashr: 1–3)


QS Al ‘Ashr mendiskusikan aset penting dalam hidup, yang disediakan gratis oleh Tuhan untuk dikelola. Aset tersebut dimiliki oleh setiap makhluk hidup, namun tidak semua makhluk hidup mampu mengelolanya. Aset tersebut adalah waktu.


Manusia dan jinlah yang diberikan kemampuan sebagai pengelola aset tersebut. Siapapun yang gagal mengelola aset tersebut, maka akan merasakan penyesalan. Surat Al Ashr juga menginformasikan kepada kita bahwa semua manusia akan merasakan rugi dan menyesal, bahkan orang yang telah berbuat baik sekalipun, akan menyesal, mengapa ia tidak berbuat baik lebih banyak.


Hal ini setidaknya dapat kita lihat dalam sebuah kisah di zaman Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam berikut ini (Yulianto, 2016):


Seorang sahabat bernama Sya’ban radhiallahu ‘anhu meninggal dunia, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam bertakziah ke rumah beliau. Saat itu, Istri Sya’ban ra. bertanya: “Ya Rasulullah ada sesuatu yang menjadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya.”

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasulullah.

“Di masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh! Aduh kenapa tidak yang baru! Aduh kenapa tidak semua!’” jawab istri Sya’ban.


Gamko Ubaidah Putih Anak



Rasulullah saw. pun melantunkan ayat yang terdapat dalam QS. Qaaf: 22, “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.”

“Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra. (dan orang yang sakaratul maut) tidak dapat disaksikan yang lain. Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra. melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjama’ah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra. diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,” ujar Rasulullah.


Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat, dia berucap: “Aduh mengapa tidak lebih jauh”, timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra., mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra. melihat saat ia akan berangkat shalat berjama’ah di musim dingin. Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Ia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Ia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.


Ia berpikir, jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan ketika sampai di masjid ia dapat membuka baju luar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid, ia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban ra. pun merasa iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut, kemudian ia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat shubuh bersama-sama.





Orang itu pun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat jama’ah. Sya’ban ra. pun kemudian melihat indahnya surga, sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.


Kemudian ia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru”, timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja dapat mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu ia akan mendapatkan surga yang lebih indah jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra. melihat lagi suatu adegan. Saat ia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci, tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran rata-rata roti Indonesia). Ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya’ban ra. merasa iba.


Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan volume yang sama rata, kemudian mereka makan bersama-sama. Allah subhanahu wa ta’ala kemudian memperlihatkan Sya’ban ra. dengan surga yang indah. Ketika melihat itupun Sya’ban ra. berteriak lagi, “Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra. kembali menyesal. Seandainya ia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut, maka pasti ia akan mendapat surga yang lebih indah. Masyaallah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, melainkan menyesali mengapa tidak optimal.


Melihat kisah indah tersebut, hampir dapat dipastikan, saya dan Anda termasuk orang yang akan menyesal di saat akhir nanti. Karena kita kurang mampu memanajemeni aset secara optimal untuk dapat lebih banyak melakukan kebaikan. Yang mungkin dapat kita lakukan saat ini adalah berusaha meminimalkan penyesalan.


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://feb.unair.ac.id/index.php/sains/artikel-populer/921-filosofi-hidup-setiap-kita-akan-menyesal.html

Produk yang Diulas :
Gamko Ubaidah Anak Putih Khaleed Apparel
Sep 14, 2021
Nikmatnya Shalat Tahajud


Meski bukan shalat wajib, tahajud menjadi shalat sunah yang diutamakan Allah SWT dan rasul-Nya. Bertebaran ayat-ayat yang mengungkap keutamaan shalat pada sepertiga malam ini. Di antaranya tercantum pada QS as-Sajadah: 16. "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Sementara, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap."


Imam at-Thabari menjelaskan, lambung yang jauh dari tempat tidur bermakna karena mereka sibuk berdoa kepada Allah dan beribadah dengan rasa takut dan harap. Menurut dia, lambung seseorang disebut jauh dari tempat tidur apabila ia tak tidur, sementara orang lain sedang menikmati lelapnya. Seorang hamba memilih menjauhi tempat tidur untuk bangkit kemudian shalat. Dia menikmati rukuk, sujud, dan berzikir menyebut asma-Nya.


Keajaiban shalat tahajud pun terbukti bukan sekadar isapan jempol. Banyak hikmah dan fadilah yang diperoleh seorang hamba saat berkhalawat dengan Tuhannya. Dalam buku Mukjizat Shalat Malam karangan Sallamah Muhammad Abu Al Kamal, kisah tahajud para sahabat dan orang-orang saleh ditulis dengan indah.

Saat hendak melakukan tahajud, Umar bin Khattab kerap membangunkan anggota keluarganya sambil membacakan ayat Alquran Surah Thaha:132. "Dan, perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya."


Sirwal Jogger Anak Hijau


Umar, seorang khalifah yang memiliki kekuasaan yang membentang dari jazirah Arab hingga ke Mesir kerap menyibukkan malam-malamnya dengan tahajud. Dia bahkan berkata, "Sekiranya bukan karena tiga hal, aku tidak ingin hidup lebih lama, yaitu berjihad di jalan Allah, bersusah payah pada malam hari, dan berkumpul dengan orang banyak untuk mendapat nasihat-nasihat terbaik, seperti mengambil buah-buah terbaik."


Nikmatnya shalat malam diperlihatkan seorang sahabat Ibad Ibn Basyar Ra. Syahdan, Rasulullah dikuntit seorang musyrik. Dia hendak membunuh para sahabat. Pada satu tempat, Rasulullah meminta singgah untuk istirahat sejenak. Dia pun mengamanahkan Ammar Ibnu Yasir untuk menjaga keamanan, sementara Ibad Ibnu Basyar melakukan shalat malam.


Penguntit tadi datang. Dia lantas mengarahkan panahnya kepada Ibad Ibn Basyar hingga mengenainya. Ibad mencabut tiga anak panah yang menancap ditubuhnya. Namun, dia terus saja ruku' dan sujud. Kemudian, Rasulullah pun terbangun.

Ketika mengetahui hal itu, sahabat muhajirin bertanya kepada Ibad. " Mengapa engkau tidak membangunkanku ketika pertama kali terkena panah? Ibad menjawab, "Aku sedang shalat dengan membaca Surah al-Kahfi. Aku tidak ingin menghentikannya."


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/onpxj3313/nikmatnya-shalat-tahajud

Produk yang Diulas :
Sirwal Jogger Anak Hijau Khaleed Apparel
Sep 14, 2021
Kemana Perginya Ruh Setelah Jasad Mati?


Kematian berjamaah datang ketika bencana. Wabah Corona Virus Desease (Covid) 19 membuat ribuan nyawa melayang. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, sudah 146 ribu lebih nyawa dijemput malaikat maut. 


Ajal menjadi sesuatu yang pasti bagi makhluk Allah di muka bumi. Jadwal ajal manusia  sudah ditetapkan ketika roh ditiupkan oleh malaikat. Seberapa kuat pun perlindungan yang manusia buat, dia akan mati tatkala malaikat maut dijadwalkan datang untuk menjemput. Roh pun harus berpisah dengan jasad. 


Kemana sebenarnya keberadaan roh setelah mati hingga kiamat datang? Pertanyaan mengenai roh sebenarnya sudah ada pada zaman Rasulullah dan para sahabat. Allah SWT pun memerintahkan rasul-Nya untuk menjawab.  “Roh itu adalah urusan Rabb-ku,” (QS Al Israa: 85). 

Dari kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, cukup banyak fenomena kehidupan rohani. Dalam arti, suatu alam tersendiri yang berbeda dengan kehidupan alam nyata ini. Namun, masih banyak masalah yang tersamar sementara banyak orang mendapatkan penjelasan. Syekh Ibnu Qayyim al Jauziy dalam kitabnya, Roh, hendak mengangkat fenomena ini. 


Sirwal Jogger Dewasa Hijau


Dalam pembahasan tentang bab tersebut, Ibnu Qayyim memulai dengan pertanyaan, apakah roh itu berada di langit atau di bumi? Apakah roh berada di surga atau neraka? Apakah ia dititipkan di badan yang bukan badannya yang dulu ditempati lalu dia disiksa atau diberi kenikmatan di dalam badan itu? Ataukah roh berdiri sendiri dalam artian terlepas dari badan. 


Ibnu Qayyim menjelaskan, Nabi SAW mengabarkan bahwa roh-roh itu layaknya pasukan yang dikerahkan. Selagi roh-roh itu saling mengenal, maka ia bersatu. Selagi roh-roh itu saling mengingkari, dia akan berselisih. 


Allah SWT juga mengambil janji dan kesaksiannya tentang Rububiyah, dengan keberadaannya sebagai makhluk yang dibentuk dan mempunyai akal.  Sebelum Allah memerintahkan para malaikat bersujud kepada Adam dan sebelum memasukkan roh itu ke badan. Badan pada saat itu berupa tanah dan air. Mereka lalu ditempatkan Allah menurut kehendak-Nya, yaitu di barzakh yang juga menjadi tempat kembalinya setelah meninggal. 


Allah Taala kemudian membangkitkan sekumpulan demi sekumpulan roh lalu ditiupkan ke dalam badan yang bermula dari mani. Hingga Ibnu Hazm berkata, “Jadi benar bahwa roh-roh itu merupakan badan yang membawa tujuan-tujuannya untuk saling mengenal atau saling mengingkari. Mereka menyadari telah diistimewakan. Allah pun menguji mereka di dunia menurut kehendak-Nya lalu mematikannya.


Mereka kembali ke alam barzakh seperti yang dilihat Rasulullah SAW pada malam Isra’ Mikraj di langit dunia. Disana, roh orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan berada di sebelah kanan Adam dan roh orang-orang yang mendapatkan penderitaan berada di sebelah kiri Adam. Hal ini terjadi ketika terputus dari segala unsur. Sementara roh para nabi dan syuhada langsung ditempatkan di surga.


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/q8x7e0483/kemana-perginya-roh-setelah-jasad-mati

Produk yang Diulas :
Sirwal Jogger Dewasa Hijau Khaleed Apparel
Sep 14, 2021
Bersyukurlah! Ini 10 Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW


Nikmat terbesar yang patut kita syukuri adalah ketika dipilih menjadi umat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Berkat Rasulullah Nabi yang paling mulia, kita pun menjadi umat paling mulia di antara ummat-ummat lain.


Bersyukurlah menjadi umat Nabi Muhammad karena Allah Ta'ala memberi banyak keistimewaan. Berikut 10 keistimewaan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.


1. Umat Nabi Muhammad SAW Adalah Umat Terbaik.

Sebagaimana terdapat dalam Surah Ali Imran, Allah 'Azza wa Jalla berfirman:


كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ


"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Ali Imran ayat 110)


2. Umat yang Pertama Masuk Surga.

Dalam Hadis Riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Kita (Muhammad SAW dan umatnya) adalah umat yang terakhir, dan yang paling pertama pada hari kiamat, kami adalah orang yang pertama masuk surga."


3. Umat yang Tidak Sepakat dalam Kesesatan.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku (umat Nabi Muhammad) atas kesesatan." (HR. at-Tirmidzi)


Koko Yalova Panjang Ungu


4. Allah Memaafkan Umat Nabi Muhammad Dikala Lupa.

Dalam Hadits Riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku, apa yang terbersit di dalam hati, selama belum diucapkan maupun dilakukan." Kemudian di hadis lain, Beliau bersabda: "Dimaafkan untuk umatku akibat, tersalah (tak sengaja), terlupa dan terpaksa." (HR. Al Baihaqi)


5. Allah Memberi Umat Nabi Muhammad Pahala Dua Kali Lipat.

Sesungguhnya perumpamaan kalian dibandingkan orang-orang Yahudi dan Nasrani seperti seseorang yang memperkerjakan para pekerja yang dia berkata: "Siapa yang mau bekerja untukku hingga pertengahan siang dengan upah satu qirath, maka orang-orang Yahudi melaksanakannya dengan upah satu qirath per satu qirath. Lalu orang-orang Nashrani mengerjakannya dengan upah satu qirath per satu qirath. Kemudian kalian mengerjakan mulai dari shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dengan upah dua qirath per dua qirath. Maka orang-orang Yahudi dan Nashrani marah seraya berkata: "Kami yang lebih banyak amal namun lebih sedikit upah!" Lalu orang itu berkata: "Apakah ada yang aku zalimi dari hak kalian?" Mereka menjawab: "Tidak ada". Orang itu berkata: "Itulah karunia dari-Ku yang Aku memberikannya kepada siapa yang aku kehendaki." (HR Al-Bukhari dan Muslim)


6. Mendapat Syafaat Besar dari Nabi Muhammad.

Dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Aku disuruh memilih antara setengah umatku akan dimasukkan ke surga dengan diberi syafa’at, maka aku memilih syafaat, karena sesungguhnya syafaat lebih mencakup dan lebih mencukupi, bagaimana pendapat kalian, apakah ia hanya diberikan kepada orang-orang yang bertakwa saja? Tidak, akan tetapi ia di berikan juga terhadap orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang banyak kesalahan."


7. Umat Nabi Muhammad Dapat Memberi Syafa'at kepada Orang Lain.



Sebagaimana sabda Rasulullah: "Wahai Rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, sholat bersama kami, dan berhaji bersama kami." Maka dikatakan kepada mereka: "Keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui." Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah dimakan neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata: "Wahai Rabb kami tidak tersisa lagi seseorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami." (HR Muslim)


8. Umat Nabi Muhammad Masuk Surga dengan Wajah Bersinar.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari Kiamat dengan wajah berseri-seri karena bekas air wudhu." (HR. Al-Bukhari)


9. Umat Nabi Muhammad Tidak Mendapat Siksa pada Hari Kiamat.

Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلمbersabda: "Umatku ini umat yang disayangi, ia tidak disiksa pada hari kiamat. Siksaannya ada di dunia berupa fitnah, gempa dan pembunuhan." (HR Abu Dawud dan Al-Hakim)


10. Dari Umat Nabi Muhammad Akan Diutus Para Pembaharu.

"Sesungguhnya Allah membangkitkan bagi umat ini dalam awal setiap seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama mereka." (HR. Abu Dawud)


Demikian keistimewaan umat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Sepatutnya kita bersyukur kepada Allah karena menjadikan kita sebagai umat Beliau. Maka perbanyaklah Sholawat kepada beliau, teladani akhlaknya dan hidupkan sunnahnya. Semoga kelak kita dikumpulkan di Surga bersama beliau. Allahumma Aaamin.


Berikut ini tambahan dari Ustadz Oemar Mita :



SUMBER : https://kalam.sindonews.com/read/405894/69/bersyukurlah-ini-10-keistimewaan-umat-nabi-muhammad-saw-1619118252

Produk yang Diulas :
Koko Yalova Panjang Ungu Khaleed Apparel
Sep 14, 2021
Dahsyatnya Sakaratul Maut, Rasulullah SAW Anjurkan Berdoa


Ada banyak ketentuan dalam proses dicabutnya nyawa dari jasad seseorang (sakaratul maut). Sakit saat sakaratul maut pasti dirasakan setiap orang saat ruh keluar dari jasad.  

Untuk itu, kata Imam Al Ghazali, Rasulullah SAW mengajarkan kita berdoa agar diringankan dari sakit saat sekaratul maut.


"Nabi berdoa berkenaan dengan kejadian saat ajal," kata Imam Ghazali dalam kitabnya yang diterjemaahkan menjadi judul "Mati dan Kejadian Setelahnya." Berikut doa yang dipanjatkan Baginda Nabi Muhammad SAW. 

اللهم أعني على سكرات الموت Allahumma a'innii ala sakaratil mauti "Ya Allah Tuhanku, mudahkanlah sakaratul maut (hilangkanlah rasa sakit saat ajal) bagi-Muhammad." 

Jadi kata Imam Ghazali, Nabi SAW dan orang-orang yang dekat dengan Allah takut dengan rasa sakit dan pedih saat sakaratul maut.


Nabi Isa AS berkata, "Wahai murid-muridku berdoalah kepada Allah SWT agar dia berkenan memberimu kemudahan saat menghadapi sakaratul maut. Sungguh aku mengetahui betapa hebatnya rasa sakit saat sakaratul maut." 


Koko Yalova Pendek Abu


Imam Ghazali mengatakan, diriwayatkan bahwa pada suatu ketika, masuk kelompok orang Bani Israil lewat di sisi sebuah pemakaman. Mereka berkata satu sama lain, alangkah baiknya jika salah seorang di antara kita berdoa kepada Allah SWT agar seseorang dari penghuni kubur ini bisa bangun dan mengabarkan kepada kita berita tentang alam kubur. "Oleh karena itu mereka berdoa bersama kepada Allah untuk keperluan itu," katanya. 


Tiba-tiba salah satu mayat bangkit dari kuburnya dan di dahi antara keduanya matanya terdapat bekas-bekas. Si mayat bertanya, "Wahai kaumku apa yang kau inginkan dariku?" Aku menderita akibat rasa sakit saat sakaratul maut selama 50 tahun terakhir ini. Apa yang kuderita saat kematian belum juga berkurang hingga saat ini." 



عن عائشة رضي الله عنها قالت ما أغبط أحداً بهون موت بعد الذي رأيت من شدة موت رسول الله صلى الله عليه وسلم

Siti Aisyah ra berkata, "Aku tak percaya bahwa rasa sakit saat ajal seseorang yang lain lebih ringan daripada rasa sakit saat kematian Rasulullah seperti yang kusaksikan." Rasulullah SAW berdoa:   

"Ya Allah Tuhanku sesungguhnya engkau mengambil nyawa dari ruas sendi, tulang belulang bahkan dari ujung jari. Ya Allah Tuhanku, mudahkanlah kematian itu untukku." 


عَن الْحسن أَن رَسُول الله -صلى الله عَلَيْهِ وَسلم- ذكر ألم الْمَوْت وغصته فَقَالَ: هُوَ كَقدْر ثَلَاثمِائَة ضَرْبَة بِالسَّيْفِ 

Beliau bersabda sesaat menjelang ajalnya, "Aku merasa sakit saat kematian datang ibarat di tusuk dengan 300 mata pedang." 

Pada suatu hari beliau ditanya mengenai mati dan kesulitannya saat kematian. Beliau menjawab seringan ringannya rasa sakit saat kematian sama dengan rasa sakit yang disebabkan trisula besi yang dicabut setelah ditusukkan pada kedua bola mata."  


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/qt7bf7320/dahsyatnya-sakaratul-maut-rasulullah-saw-anjurkan-berdoa

Produk yang Diulas :
Koko Yalova Pendek Abu Khaleed Apparel
Sep 14, 2021
Rasulullah Sebagai Rahmat Bagi Semesta Alam


Islam hadir tidak hanya sebagai rahmat bagi umat manusia, tetapi juga alam semesta. Pesan dan makna rahmatnya Islam sudah diisyaratkan dalam Alquran dan hadis.

Secara kebahasaan, rahmat berasal dari bahasa Arab, rahman, yang berarti ‘kasih sayang.’ Ada lebih dari 90 ayat di dalam Alquran yang menyinggung tentang rahmat. Ungkapan Bismillahi ar-Rahmaan ar-Rahiim acapkali diulang-ulang pada awal hampir setiap surah.


Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya Allah menyayangi.” Artinya, Islam amat menganjurkan umatnya untuk menebar kasih sayang. Bahkan, itulah misi kenabian Rasulullah SAW, sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Anbiya ayat 107.


Terjemahannya, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).”

Di antara sifat-sifat Allah adalah Mahapengasih dan Mahapenyayang. Alquran surah al-A’raf ayat 156 menegaskan, rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Dengan pesan inilah, risalah Islam menyebar ke muka bumi.


Rompi Reguler Mauve


Sebelum Islam berjaya, Jazirah Arab sangat mengutamakan kebanggaan yang berlebihan terhadap suku masing-masing. Tidak mengherankan bila sering terjadi perang antarsuku, bahkan bila persoalan sepele. Ketika Islam meliputi Makkah, Madinah, dan akhirnya seluruh kawasan tersebut, maka kebanggaan duniawi tersisihkan. Orang-orang mulai menyadari dan mengamalkan kebanggaan yang sejati, yakni memperjuangkan agama ini.


Islam menolak rasisme, sehingga fanatisme berlebihan pada suku-suku bangsa ditolak. Inilah semangat kosmopolitan. Dengan itu, Islam menyebar sebagai rahmat bagi umat manusia. Puncaknya terjadi pada masa keemasan peradaban Islam. Banyak pusat-pusat keunggulan muncul di pelbagai wilayah, mulai dari Andalusia di Barat hingga Nusantara.



Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin mencakup banyak konteks. Misalnya, teologi. Islam menolak tegas pemaksaan atas orang lain untuk memeluk agama yang sama. “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama”, demikian pesan Alquran surah al-Baqarah ayat 256. Islam semata-mata menegaskan, sudah jelas beda antara kebenaran dan kebatilan. Kemudian, tiap orang akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa-apa yang dilakukannya.


Dalam konteks sosial, Islam memberikan dorongan positif kepada umat manusia untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian, hubungan sosial juga dipelihara, sehingga menimbulkan ketentraman. Banyak pakar memaparkan, adanya persaudaraan antarmanusia (ukhuwah basyariyah), persaudaraan antarbangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan di antara sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah).

Ketiganya berjalan seiringan dengan porsi masing-masin yang seimbang. Dalam tiga dimensi persaudaran itulah, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin mewujud.


Berikut penjelasan Ustadz Oemar Mita :




SUMBER : https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/19/03/28/pp2hrg458-gagasan-islam-rahmat-bagi-semesta

Produk yang Diulas :
Rompi Reguler Mauve Khaleed Apparel
Sep 13, 2021
Ingkar Janji dalam Islam Hukum dan Dalilnya


Kita mungkin cukup sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa janji adalah hutang. Ternyata, pepatah ini benar-benar menggambarkan pengertian janji itu sendiri. Janji adalah sebuah perkataan atau pengakuan yang bersifat mengikat diri sendiri terhadap sesuatu ketentuan yang dia katakan. Karena sifatnya yang mengikat, janji ini harus ditepati dan dipenuhi.


Dalam agama Islam pun demikian. Janji merupakan sesuatu yang harus ditepati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat” (HR. Bukhari Muslim). Maka, dari hadis tersebut, tentu kita tidak mau termasuk ke dalam golongan orang munafik akibat suka ingkar terhadap janji yang dibuat.


Kedudukan Janji dalam Islam



Dari hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, kita bisa mengetahui bahwa janji mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Tidak boleh kita seenaknya mengucap janji jika kita tidak merasa yakin bisa menepatinya. Tentang pentingnya menepati janji ini juga ada dalam surat an Nahl ayat 91 dan 92, yang berbunyi,


Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.


Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya mengujimu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu”.


Dari ayat di atas, kita bisa mengetahui bahwa Islam mewajibkan umatnya untuk selalu menepati janji. Kalaupun misalnya kita melanggar janji tersebut dengan berbagai alasan yang tidak akan diketahui oleh orang lain, Allah Melihat apa yang kita lakukan. Allah Maha Mengetahui segala isi hati kita dan Dia akan meminta kita mempertanggungjawabkan perbuatan itu di akhirat kelak. Tentu kita harus melihat juga apakah isi perjanjian yang kita buat melanggar ajaran agama atau tidak.


Menurut M. Yunan Nasution, ada beberapa hukum memenuhi janji yaitu sebagai berikut:


  1. Sunnah untuk memenuhinya, jika hal yang diperjanjikan tidak diperintahkan oleh agama dan juga tidak mengandung mudharat tertentu jika ditinggalkan, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Misalnya, seseorang berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi makan makanan pedas.
  2. Sunnah untuk tidak memenuhinya, jika janji yang dia buat sudah tidak relevan dengan keadaan dan jika meninggalkan janji tersebut lebih besar manfaatnya. Misalnya ketika seseorang berjanji untuk tidak melanjutkan kuliah karena ingin berbisnis saja, namun orang tua lebih meridhai dia untuk kuliah. Jika demikian, dia harus membayar kafarat atas janji atau sumpah yang dia buat dengan berpuasa kafarat 3 hari berturut-turut.
  3. Wajib untuk meninggalkan janjinya, yaitu ketika janji yang dia buat bertentangan dengan ajaran agama.


Ergani Mask Coklat Kain 2 Lapis Premium Hijab



Pandangan Islam tentang Ingkar Janji


Ingkar janji yang dimaksud di sini adalah ketika seseorang mengingkari janjinya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Melakukan perbuatan ingkar janji juga bisa berarti orang tersebut berbuat kebohongan kepada orang lain. Bagaimanapun, pihak lain yang mendengar janji kita telah memberi kepercayaan dan berharap untuk kita menepatinya. Maka, ketika kita mengingkari janji tersebut, orang tersebut pasti akan merasa dibohongi dan kecewa.


Alllah subhanahu wa ta’ala mengutuk keras, melaknat serta akan menimpakan bencana kepada seseorang yang ingkar kepada janjinya sendiri. Bukan hanya janjinya kepada Allah, Allah juga melaknat manusia yang melanggar janjinya terhadap manusia lainnya.


Ingkar terhadap janjinya sendiri merupakan salah satu sifat orang munafik. Padahal, Allah sangat membenci orang munafik. Hal ini tercermin dalam surat An Nisa ayat 145, Allah berfirman, “Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”.



Sebagai umat muslim, kita harus beriman pada hari akhir, dimana setelah itu semua manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya selama di dunia. Hal ini termasuk semua janji yang pernah dia buat pun akan dimintai pertanggungjawabannya saat di akhirat kelak. Seperti dalam surat al Isra’ ayat 34,


Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik bermanfaat sampai dia dewasa dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”.


Cukup dengan beberapa ayat al Quran di atas, kita bisa mengetahui bahwa ingkar janji bukanlah termasuk ciri-ciri muslim yang bertakwa. Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala sangat membencinya. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berusaha untuk menepati janji yang pernah kita buat. Karena Allah pasti Menyaksikan semua perjanjian yang kita buat.


Ada beberapa manfaat besar bagi manusia yang selalu menepati janjinya, baik manfaat di dunia maupun di akhirat. Manfaat di dunia tentu saja berupa hubungan sosial yang lebih baik, kepercayaan dari orang lain, yang mungkin akan mendatangkan amanah lain dan bermanfaat sebagai ladang pahala kita. Hal ini sudah tercermin pada teladan yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu saat mendakwahkan ajaran Islam.


Pada saat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai sosok yang jujur dan selalu menepati janji. Beliau dan pengikutnya selalu menepati janji, bahkan janji yang dibuat dengan kelompok orang kafir. Pada akhirnya, hal ini menimbulkan kepercayaan dan berbondong-bondonglah orang yang masuk Islam.


Sementara itu, manfaat untuk kehidupan akhirat kita adalah Allah akan menggolongkan kita ke dalam golongan orang yang bertakwa. Dalam al Quran surat Ali Imran ayat 76, Allah berfirman, “Sebenarnya barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah Mencintai orang-orang yang bertakwa”. Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui, jika kita selalu menepati janji kita dan bertakwa pada Allah, Allah akan Mencintai kita sebagai hamba-Nya yang bertakwa.



Tidak hanya sebagai usaha kita menggapai ketakwaan pada Allah subhanahu wa ta’ala, menepati janji juga bisa menjadi penyebab dihapusnya dosa kita dan memasukkan kita ke surga. Hal ini tercermin dalam firman Allah di surat Al Baqarah ayat 40, “Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu”. Berdasarkan Ibnu Jarir rahimahullah, janji (Allah) kepada mereka yang dimaksud adalah Allah akan memasukkan mereka ke surga jika mereka melakukan hal tersebut.


Di awal pembahasan kita telah mengetahui bahwa Rasulullah bersabda bahwa ingkar janji merupakan salah satu perilaku orang munafik. Ternyata, tidak hanya itu, orang yang mengingkari janji juga akan mendapat laknat Allah dan malaikat. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan” (HR. Bukhari, 1870, dan Muslim, 1370).


Tidak hanya hadis di atas, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah akan tancapkan bendera bagi orang yang berkhianat di hari kiamat. Lalu dikatakan, ‘Ketahuilah, ini adalah pengkhianatan si fulan” (HR. Bukhari no. 6178 dan Muslim no.1735). Dari hadis tersebut, kita tidak mau bukan, jika dimasukkan ke golongan para pengkhianat di hari kiamat kelak? Kita semua pasti ingin masuk ke dalam golongan orang-orang beriman dan bertakwa di hari akhir nanti.


Dari pembahasan di atas, kita mengetahui bahwa menepati janji adalah hal yang sangat penting dalam agama Islam. Sebaliknya, ingkar janji merupakan perbuatan yang dibenci dan dilaknat oleh Allah subhanahu wa ta’ala, juga oleh malaikat dan seluruh manusia. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita pun harus mengikuti ajaran Islam untuk selalu menepati janji. Jangan pernah membuat janji yang kita tahu atau tidak yakin bisa kita tepati. Karena janji apapun yang kita buat, akan diminta pertanggungjawabannya kelak.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://penaberlian.com/ingkar-janji-dalam-islam-hukum-dan-dalilnya/


Produk yang Diulas :
Ergani Mask Coklat Kain 2 Lapis Premium Hijab Bisa Dicuci
Sep 13, 2021
Dapat Musibah Malah Marah ke Allah SWT, Lalu Apa Solusinya?


Banyak orang yang mengalami musibah di dunia ini. Kemudian, mereka menggerutu dan memaki-maki Allah SWT dengan musibah yang mereka dapatkan. Kata-kata negaitf pun bergantian keluar dari mulut mereka yang emosi.  

Padahal dalam Islam berprasangka buruk kepada Allah adalah termasuk perilaku yang dilarang. Hal ini sebagaimana ditegaskan firman Allah pada surah al-Fath : 6.


“Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka berprasangka buruk kepada Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahannam. Dan (Neraka Jahannam) itulah sejahat-jahatnya tempat kembali.”  

Setelah kita mengetahui larangan berburuk sangka kepada Allah, maka dari itu sebaiknya kita hindari dan jangan sampai dilakukan. Lebih baik, kita cari kebaikan dan hikmah yang terjadi dari masalah dan musibah yang kita hadapi.  


Bagaimana caranya? Ipnu R Noegroho dalam bukunya The Power of Husnudzon membagikan caranya. Di antaranya adalah sebagai berikut: 


1. Ikhlas dan menerima ketentuan Allah


Apapun yang dihadapi seseorang, baik berat maupun ringan, seharusnya sebagai Muslim yang kuat, kita harus ikhlas dan tabah menerima ketentuan dari Allah. Dalam surah at-Taghabun ayat 11 pun Allah menjelaskan, 


“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 


Gamis Aisyah Polos Hitam


2. Menyadari ada keburukan di balik sesuatu yang baik


Banyak yang menganggap sesuatu tampilan yang baik memiliki sesuatu yang baik pula di dalamnya, begitupun dengan tampilan yang jelek. Namun, anggapan seperti ini sudah jelas salah karena yang jelek belum tentu buruk dan yang bagus belum tentu baik. 


3. Menyadari bahwa akan ada pengganti


Di balik kedukaan dan musibah yang dihadapi, percayalah akan ada yang lebih baik nantinya untuk menggantikan kedukaan yang telah terjadi. Sebagai hamba Allah, kita ahrus menyadari bahwa Allah itu Mahakaya.

Seperti yang tertuang dalam hadis Bukhari dan Muslim, “Apabila Aku memberikan cobaan kepada hamba-Ku dengan (dijadikannya buta) kedua mata yang dicintainya, ia pun bersabar, maka Aku akan menggantinya dengan surga.” 


4. Menyadari bahwa Allah menakdirkan segalanya dengan baik


Yang sering kita lewati adalah poin terakhir ini, yaitu meyadari bahwa Allah Swt telah memberikan kita segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Terkadang kita merasa kurang, padahal Allah telah memberikannya sesuatu kebutuhan kita.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/q4f031320/dapat-musibah-malah-marah-ke-allah-swt-lalu-apa-solusinya

Produk yang Diulas :
Gamis Aisyah Polos Hitam
Sep 13, 2021
Orang Berilmu dan Bodoh


Peradaban manusia semakin maju, canggih, dan mutakhir. Fondasi kemajuan peradaban itu salah satunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak sekali karya orang pandai dan hebat yang dihasilkan. Hanya saja, yang menyedihkan, banyak pula kerusakannya.


Tidak sedikit yang berpendidikan tinggi tetapi rendah akhlaknya. Bergelar profesor doktor atau bahkan ustaz tetapi korupsi dan melakukan tindakan tercela lainnya. Tidakkah ilmu mereka menjadi penuntun dalam kehidupan keseharian? Ketahuilah, bukan orang yang serbatahu dan pintar yang layak disebut orang berilmu. Tidak juga mereka yang ber-IQ tinggi, apalagi jika sifat angkuh dan sok pintar menyertai. Orang berilmu itu selalu merasa takut kepada Allah, menaati-Nya dan meninggalkan perbuatan maksiat.


Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah az-Zumar ayat 39: “Apakah orang-orang yang beribadah di waktu malam dengan bersujud dan berdiri? Dia merasa takut kepada hari akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya. Katakanlah, “Apakah sama kedudukannya antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”


Firman Allah SWT dalam Alquran surah Faathir ayat 28: “... Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya itu hanyalah para ulama.” Ilmu pengetahuan yang dimiliki hendaknya membimbing manusia menyadari kelemahan, ketidaktahuan diri sendiri, dan kemahakuasaan Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Tidak ada ruang untuk takabur, merasa paling hebat dan pandai. Karena ilmu yang dimiliki hanya setetes saja dari luasnya lautan pengetahuan Allah Yang Maha Mengetahui.


Ibnu Mas’ud berkata, “Sudah mencukupi jika rasa takut kepada Allah dikatakan sebagai ilmu dan sudah mencukupi jika kesombongan itu dikatakan sebagai kebodohan.”


Gamis Aisyah Motif Baby Blue


Ilmu pengetahuan dalam Islam tidak hanya mencakup hal yang fisik, tetapi juga metafisik. Pengetahuan tentang alam semesta, sosial, dan budaya harus dibarengi dengan pengetahuan tentang alam gaib, perintah, dan larangan sebagaimana Allah SWT maktubkan dalam Alquran.


Ilmu pengetahuan dalam Islam mencakup ayat-ayat yang bersifat kauniyah (alam semesta beserta isinya) juga qauliyah (teks). Di sinilah mengapa ilmu pengetahuan harus sarat nilai, tidak bebas nilai. Keberadaan ilmu pengetahuan sepenuhnya untuk mengukuhkan keimanan dan menebar kemanfaatan di bumi ini, memerankan tugas sebagai hamba (‘abd) dan khalifah. Dengan demikian, tidak cukup kita mengetahui segala sesuatu, tetapi juga taat kepada pencipta segala sesuatu itu. Ilmu, iman, dan amal adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.


Ilmu adalah cahaya, pembimbing dari kesesatan menuju kebenaran. Membimbing jiwa manusia untuk tetap istiqamah berada di jalan-Nya. Untuk tetap menjadi hamba yang taat menjalankan semua perintah dan larangan. Mengapa ilmu dibutuhkan? Karena jiwa manusia itu karakternya berubah-ubah, dinamis. Rasulullah SAW bersabda: “Sebenar-benarnya nama adalah Harits (pembajak tanah) dan Hamam (orang yang rajin).”


Setiap manusia adalah harits dan hamam. Yang dimaksud harits adalah orang yang bekerja dan mencari nafkah, sedangkan yang dimaksud hamam adalah orang yang mempunyai tujuan dan mempunyai keinginan. Manusia melakukan upaya untuk meraih apa yang diinginkannya itu.


Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda: “Perumpamaan hati itu seperti bulu yang diterbangkan di padang pasir yang luas. Hati itu sangat mudah berubah-ubah keadaannya. Jika hari itu mengandung keinginan maka dia akan bergejolak.”


Demikianlah, keinginan akan membawa pada upaya manusia untuk meraih ambisinya. Hanya ilmu dan ketaatan kepada Allah SWT yang akan memagari agar keinginan itu tidak menyesatkan. Semoga Allah SWT memberi kita ilmu yang bermanfaat sehingga pahalanya terus mengalir abadi. Wallahu a'lam.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/p2zl4y396/orang-berilmu-dan-bodoh

Produk yang Diulas :
Gamis Aisyah Motif Baby Blue
Sep 13, 2021
Tamak Terhadap Harta Dan Jabatan


Tamak Terhadap Harta Manusia sangat mencintai harta dan akan terus senantiasa mencarinya, tidak merasa puas dengan yang sedikit, manusia sangat tamak kepada harta dan panjang angan-angan.


Allâh Azza wa Jalla berfirman:


وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. [Al-Fajr/89:20]


وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan. [Al-‘Âdiyât/100:8]


Hati orang tua menjadi pemuda karena dua hal, yaitu cinta dunia dan panjang angan-angan.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَىٰ حُبِّ اثْنَتَيْنِ : طُوْلُ الْـحَيَاةِ وَحُبُّ الْمَالِ

Hati orang yang tua renta senantiasa muda dalam mencintai dua perkara: hidup yang panjang dan cinta terhadap harta.[1]


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:


يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ: حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ

Anak Adam (manusia) semakin tua dan menjadi besar juga bersamanya dua hal: cinta harta dan panjang umur.[2]



Hikmah dari penyebutan dua hal tersebut yaitu bahwa yang paling dicintai oleh manusia adalah dirinya, ia ingin hidup kekal, maka itu ia mencintai panjang umur.

Manusia juga mencintai harta, karena harta merupakan sebab terbesar untuk senantiasa sehat, yang menjadi salah satu sebab panjang umur. Jadi setiap ia merasa hartanya akan habis, bertambah kuatlah kecintaannya kepadanya.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَلَا يَزْدَادُ النَّاسُ عَلَى الدُّنْيَا إِلَّا حِرْصًا، وَلَا يَزْدَادُوْنَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا

Hari Kiamat semakin dekat, dan tidak bertambah (kemauan) manusia kepada dunia melainkan semakin rakus, dan tidak bertambah (kedekatan) mereka kepada Allâh melainkan semakin jauh.[3]


Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang manusia:

لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika ditimpa malapetaka, mereka berputus asa dan hilang harapannya.”[Fush-shilat/41: 49]


Al-Baghawi rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Manusia senantiasa meminta kebaikan kepada Rabb-nya, yaitu harta, kekayaan, dan kesehatan.”[4]


Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,


بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ

Tetapi manusia hendak membuat maksiat terus menerus. [Al-Qiyâmah/75:5]


Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Mereka cepat berbuat dosa dan menunda-nunda taubat. Mereka berkata, ‘Saya akan bertaubat, saya akan beramal.’ (Tetapi mereka tidak melakukannya-pent) sampai akhirnya kematian datang kepada mereka dalam keadaan mereka yang paling jelek dan amalan yang paling buruk.”[5]


Baju Gamis Jubah Hoodie Dewasa Hijau




Panjang angan-angan, merasa masih berusia panjang adalah penyakit berbahaya dan kronis bagi manusia. Jika penyakit ini menjangkiti seorang Muslim, maka itu akan membawa kepada indikasi yang lebih serius. Misalnya ia mulai menjauhi perintah Allâh Azza wa Jalla , enggan bertaubat, cinta kepada dunia, lupa akan kehidupan akhirat yang abadi, dan membuat hati menjadi keras. Allâhul Musta`ân. Manusia tidak akan pernah puas terhadap apa yang sudah diperolehnya.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Sungguh, seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, niscaya ia sangat ingin mempunyai dua lembah (emas). Dan tidak akan ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah.’ Kemudian Allâh mengampuni orang yang bertaubat.[6]


Dari ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata, “Saya pernah mendengar Ibnu Zubair dalam khutbahnya di atas mimbar di Mekah berkata:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلْأً مِنْ ذَهَبٍ، أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا، وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا، وَلَا يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ. Wahai manusia! Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh, seandainya anak Adam diberikan satu lembah yang penuh dengan emas, pasti dia akan ingin memiliki lembah yang kedua, dan jika seandainya dia sudah diberikan yang kedua, pasti dia ingin mempunyai yang ketiga. Tidak ada yang dapat menutup perut anak Adam kecuali tanah, dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.’[7]


Dua hadits ini menjelaskan bahwa manusia sangat tamak dan rakus kepada harta, meskipun hartanya sudah melimpah ruah. Diumpakan, ia memiliki satu lembah emas, tetap saja ia ingin dua lembah emas, kalau sudah memiliki dua lembah emas atau harta yang banyak, maka tetap dia tamak dan berambisi untuk memiliki tiga lembah emas. Dan tidak ada yang dapat mencegah keserakahan manusia, ambisinya dan angan-angannya kecuali kematian. Oleh karena itu di dalam hadits ini, manusia disuruh bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla atas ketamakannya dan keserakahannya. Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menerima orang yang bertaubat dengan taubat yang ikhlas, jujur, dan benar.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :





SUMBER : https://almanhaj.or.id/13400-manusia-sangat-tamak-dan-rakus-terhadap-harta-dan-jabatan-2.html

Produk yang Diulas :
Baju Gamis Jubah Hoodie Dewasa Hijau Khaleed Apparel
Sep 11, 2021
Dahsyatnya Istighfar, Solusi Untuk Segala Permasalahan


Istighfar, dzikir memohon ampunan pada Allah SWT biasa diucapkan ketika merasa berdosa.

Namun istighfar ternyata memiliki kekuatan dahsyat, bukan hanya sekedar memohon ampunan pada Allah SWT.

Istighfat, 'astaghfirullahaladzim' juga merupakan dzikir beribu solusi.


Dalam surat Nuh ayat 10-12 Allah ta'ala berfirman :


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا


“Maka Aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu fan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai”. (S.Nuh [71]: 10-12).


Maksiat yang dilakukan kadang menghambat kebaikan. Ketika istighfar dilakukan, sekat akan dibuka, Allah SWT menurunkan rahmat dari langit.

"Bahkan menjadikan kering kerontang jadi tumbuh subur lagi, rizki yang macet, pekerjaan yang sulit, dengan istighfar dan tobat akan dilancarkan kembali. Ternyata tobat itu terkait dengan rizki-rizki dan rahmat Allah".


Syech Hasan Al Basri pernah ditanya langsung oleh tiga orang.

Orang pertama menanyakan kebunnya yang kering, dia menjawab dengan perbanyak istighfar.

Orang kedua menanyakan pekerjaan yang sulit didapat, dia menjawab perbanyak istighfar.

Orang ketiga pasangan yang bertahun-tahun berumahtangga dan belum mendapatkan keturunan, ia juga menjawab perbanyak istighfar.

Ketika ketiganya pulang, jamaah yang hadir bingung dengan jawaban Syech yang sama pada ketiga orang tersebut.

"Apa Anda tidak perhatikan firman Allah SWT di surat Nuh, perbanyak istighfar pada Allah, karena dia Maha Pengampun.


Kalau ampunan sudah didapat, dosa dicabut, maka rahmat akan diturunkan dari langit dan harta diperluas, bahkan keturunan diberikan keberkahan oleh Allah SWT". Rasulullah SAW bahkan sebelum tidur banyak mengucapkan istighfar.


Baju Muslim Jubah Hoodie Anak Hijau

Dilansir nu.or.id, diriwayatkan dari Al Hasan bahwa suatu ketika datang kepadanya seseorang yang mengadu akan kefakiran yang dialaminya. Kondisi ekonominya begitu terpuruk. Kebutuhan keluarga yang ia tanggung tak dapat ia cukupi.


Ada lagi seorang yang lain mengadu kepadanya untuk meminta solusi terhadap masalah yang ia alami. Ya, seorang itu bisa dikatakan mandul. Telah lama ia menginginkan seorang buah hati, namun tak juga dikaruniai. Tapi ia tak mau putus asa. Maka datanglah ia ke Al Hasan sebagai bentuk ikhtiarnya.


Al Hasan juga didatangi oleh seorang petani. Ia begitu gamang terhadap bumi yang ia tanami. Bagaimana tidak, setelah sekian tahun mengolah tanah, tak sekali pun ia menuai hasil yang melimpah. Malah yang terjadi adalah kerusakan tanaman akibat kekeringan dan tanah yang tandus.

Semua itu dijawab oleh Al Hasan hanya dengan satu kalimat,


اِسْتَغْفِرِ اللهَ


"Bacalah istighfar, mintalah ampunan kepada Allah."

Betapa mengherankan Al Hasan ini. Di antara sekian banyak masalah yang dia adukan kepadanya hanya satu solusi yang ia berikan kepada orang-orang tersebut.


Maka Rabi' bin Shahib pun memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Al Hasan, banyak orang yang mendatangimu dengan mengadukan berbagai hal dan meminta (pertolongan) bermacam-macam kepadamu. Tapi mengapa hanya istighfar yang kau jadikan sebagai solusi jalan keluar?"


Al Hasan pun terdiam, kemudian ia hanya membacakan beberapa ayat dari Surat Nuh sebagai berikut:


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَّيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ اللهَ وَقَارًا (13)


“Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah maha pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan kepadamu hujan yang lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?".


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://banjarmasin.tribunnews.com/2017/11/16/dahsyatnya-istighfar-solusi-untuk-segala-permasalahan?page=all



Produk yang Diulas :
Baju Muslim Jubah Hoodie Anak Hijau Khaleed Apparel
Sep 11, 2021
Alasan Mengapa Kita tak Boleh Percaya Dukun dan Peramal


Manusia sama sekali tidak diwajibkan untuk mengetahui ketentuan yang telah Allah SWT gariskan. Manusia hanya diwajibkan berusaha optimal dan maksimal.


Hasilnya, Allah SWT yang Mahatahu. Dalam Alquran, Allah SWT menyebutkan beberapa hal yang hanya Dia yang Mahatahu. Firman-Nya, ''Sesungguhnya hanya Allah pemilik kunci-kunci alam gaib. Tak ada satu pun makhluk-Nya yang mengetahui.'' (QS Al-An'am: 59).


Dalam ayat lain, secara tegas Allah SWT menyebutkan beberapa hal yang hanya Dia yang secara pasti mengetahui. Pertama, pengetahuan akan hari kiamat. Kedua, pengetahuan akan turunnya hujan. Ketiga, pengetahuan akan janin yang berada di dalam rahim. Keempat, pengetahuan akan perbuatan manusia di waktu mendatang. Kelima, pengetahuan akan matinya bumi.


Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya, pengetahuan akan hari kiamat, turunnya hujan, pengetahuan janin yang ada dalam rahim, pengetahuan akan perbuatan manusia esok harinya, pengetahuan akan waktu berakhirnya bumi, semuanya, hakikatnya hanya Allah SWT yang tahu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Mahawaspada.'' (QS Luqman: 24).


Setelan Anak Putih Kozan


Pengetahuan manusia akan hal-hal gaib, tidaklah lengkap. Bahkan, sangat minim. Oleh karena itu, dalam beberapa hadisnya, Rasulullah SAW melarang manusia untuk mempercayai para dukun peramal nasib. Karena, hakikatnya, mereka itu tidak mengetahui. Mereka hanya mengaku-ngaku tahu.


Lebih jauh, pengetahuan mereka diperoleh karena bisikan jin dan setan. Dalam hadis riwayat Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud dikatakan, ''Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang manusia untuk mengambil hasil jual beli anjing, mahar hasil zina, dan bualan manis para dukun peramal nasib.''Suatu ketika, Rasulullah SAW ditanya soal dukun peramal nasib. Kata beliau, ''Mereka tidak ada gunanya.''''Ya Rasulullah, bukankah apa yang mereka katakan terkadang menjadi kenyataan?'' tanya beberapa sahabat lebih lanjut.


Rasulullah SAW menjawab, ''Itu sebetulnya berasal dari kabar berita jin yang sudah bercampur dengan ratusan kebohongan. Setelah itu, ia membisiki para dukun peramal nasib.'' (HR Bukhari dari Aisyah).


Para peramal nasib memiliki hubungan erat dengan jin. Mereka selalu berusaha memalingkan keyakinan dan akidah keimanan manusia kepada makhluk-makhluk gaib ciptaan Allah SWT. Mereka menghembuskan keragu-raguan terhadap diri manusia, yang pada gilirannya menggelincirkan umat manusia ke jalan kesesatan yang nyata.


Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa yang mendatangi para dukun peramal nasib, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang turun kepada Muhammad (Alquran).'' (HR Ahmad dari Abu Hurairah).  


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :\




SUMBER : https://republika.co.id/berita/qal7qs320/alasan-mengapa-kita-tak-boleh-percaya-dukun-dan-peramal

Produk yang Diulas :
Setelan Anak Putih Kozan Khaleed Apparel
Sep 11, 2021
Akibat Memakan Makanan Haram


Islam merupakan agama sempurna yang mengatur kehidupan umatnya dengan aturan-aturan terbaik yang sudah diperintahkan Allah, salah satunya adalah mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayib. Allah melarang umatnya untuk mengonsumsi beberapa makanan dan minuman bukan tidak ada sebabnya, karena dibalik perintah tersebut pasti ada sejumlah kebaikan di dalamnya.


Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS Albaqarah 168)


Makanan haram adalah makanan yang dilarang untuk dikonsumsi oleh umat Islam dan dapat digolongkan menjadi dua golongan utama, yakni karena dzatnya, seperti darah, bangkai, daging babi, khamr, anjing, keledai, binatang buas dsb. Ada juga haram karena suatu kondisi atau sebab tertentu meskipun zat asalnya adalah halal. Misalnya mendapat makanan atau minuman dengan cara mencuri, masakan yang disajikan untuk perbuatan syirik, dan makanan yang ada dalam acara yang tidak sesuai dengan syariat Islam, seperti bid’ah.


Adapun beberapa akibat yang disebabkan mengonsumsi makanan atau minuman haram bagi seorang Muslim, di antaranya:


1. Tidak Dikabulkannya Doa


Rasulullah bersabda, “Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh rambutnya kusut, mukanya berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan, “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku! Padahal makanannya haram dan mulutnya disuapkan dengan yang haram maka bagaimanakah akan diterimanya doa itu?” (HR Muslim).


Jubah Isparta Navy


2. Amalan Tidak Diterima


Ibnu Abbas berkata bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “ Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah”. Apa jawaban Rasulullah, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak untuknya.” (HR. At-Thabrani).


3. Makanan Haram Membawa ke Neraka


“Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram kecuali neraka lebih utama untuknya” (HR. At Tirmidzi).


4. Iman di Hatinya Berkurang


“Tidaklah peminum khamr, ketika ia meminum khamr termasuk seorang mukmin” (HR Bukhari dan Muslim).


5. Rusaknya Keturunan


Sahabat Zakat, ternyata akibat yang ditimbulkan apabila kita mengkonsumsi makanan yang haram akan merusak keturunan kita. Seseorang yang memberi makanan haram tersebut dapat merusak akhlak dan kebaikan yang ada dalam diri anak-anak. Inilah pentingnya orangtua mencari nafkah dengan yang halal dan berkah.


Sahabat Zakat, mulai saat ini yuk kita lebih berhati-hati lagi dalam memilih makanan dan minuman yang akan kita konsumsi. Apabila hendak berbelanja, jangan lupa lihat label halalnya, selain itu juga kita harus berhati-hati dengan makanan yang belum jelas kehalalannya.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://www.rumahzakat.org/akibat-memakan-makanan-haram/

Produk yang Diulas :
Jubah Isparta Navy Khaleed Apparel
Sep 10, 2021
Merasa Selalu Diawasi Allah


Salah satu nilai takwa yang dihasilkan dari ibadah puasa adalah muraqabatullah, yakni merasa diawasi oleh Allah SWT. Betapa tidak, pada siang hari ketika kita sedang melaksanakan puasa, kita bisa saja makan dan minum di tempat yang tersembunyi.


Namun, hal itu tidak dilakukan karena kita meyakini, walaupun dapat bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan manusia, kita tidak akan mampu bersembunyi dari penglihatan dan pengawasan Allah.


Kita bisa saja berpura-pura menjalankan ibadah puasa di hadapan manusia, tetapi kita tidak dapat menyembunyikan hal itu dari pengawasan Allah. Inilah bentuk dari muraqabatullah.


Tegasnya, muraqabarullah itu adalah mengondisikan diri merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupan. Allah melihat, mengetahui rahasia-rahasia, memperhatikan semua amal perbuatan, dan juga mengamati apa saja yang dikerjakan semua jiwa.


Allah berfirman, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Alquran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata.” (QS Yunus (10): 61)


Dalam ajaran Islam, muraqabatullah merupakan suatu kedudukan yang tinggi. Hadis menyebutkan bahwa muraqabatullah sejajar dengan tingkatan ihsan, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya dan jika kita tak mampu melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihat kita. (Muttafaq alaih)


Jubah Isparta Putih

Sebagai seorang mukmin hendaknya kita berusaha menggapai kedudukan muraqabatullah ini. Ketika kita sudah mencapai kedudukan muraqabatullah, serangkaian kebaikan dan keutamaan akan kita dapatkan.


Di antaranya, kita akan merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kesempurnaan-Nya, tenteram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketenteraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya.


Akhirnya, mari kita merenungi sebuah kisah yang dituturkan oleh Abdullah bin Dinar sebagai motivasi bagi kita untuk menjadi orang yang merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.


Abdullah bin Dinar berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggembala tersebut, ‘Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami’.”


Penggembala tersebut berkata, “Kambing-kambing ini bukan milikku, tapi milik majikanku.’’ Umar bin Khaththab berkata, “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambingnya dimakan serigala.’’


Namun, penggembala yang budak tersebut berkata, “Kalau begitu, di mana Allah?” Umar bin Khaththab menangis, kemudian ia pergi kemajikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut dan memerdekakannya.” Wallahu’alam.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/nreycc/merasa-diawasi-allah

Produk yang Diulas :
Jubah Isparta Putih Khaleed Apparel
Sep 10, 2021
Memanfaatkan Waktu


Dari Ibnu Abbas RA dia berkata, Nabi SAW bersabda: Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang. (HR Bukhari). Hadis tersebut memberitakan bahwa salah satu kenikmatan yang sering menipu manusia ialah waktu luang.

Betapa mulia dan berharganya waktu. Namun, masih banyak di antara kita yang belum menyadari pentingnya memanfaatkan waktu, bahkan ada yang mengabaikannya begitu saja.


Disadari atau tidak, waktu kita sering dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Siang bekerja bermalas-malasan, malam begadang sambil membicarakan sesuatu yang tidak berguna.


Seorang mahasiswa, misalnya, menghabiskan waktunya bukan untuk membaca buku atau diskusi ilmiah, tapi dengan duduk-duduk sambil ngobrol tanpa arah. Tentulah di sela-sela obrolan itu ada ghibah. Sungguh yang demikian itu suatu kerugian yang nyata. Waktunya terbuang, sementara pengetahuannya tidak bertambah.


Bagi yang paham pentingnya memanfaatkan waktu, ia akan menyadari makna kehidupan sebe narnya. Waktunya digunakan dan dihabiskan sebagai persiapan untuk menjalani perjalanan abadi.


Memperbanyak bekal untuk kehidupan setelah mati, hingga memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Adapun yang lalai, ia hanya membawa bekal sekadarnya, atau bahkan menjalani perjalanan abadi tanpa bekal sama sekali.


Seorang yang beriman, tidak akan menyia- nyiakan waktu sedetik pun. Ia senantiasa menghabiskan waktunya semata-mata untuk lebih dekat dengan Allah dan selalu menyajikan yang terbaik dalam kata dan perbuatan.


Niatnya selalu tegak untuk melakukan segala kebaikan. Motivasinya jelas, mengharap ridha Allah semata. Ia senantiasa berhati-hati dalam berbuat.Perkataannya selalu dijaga agar tidak melukai orang lain.


Jubah Isparta Abu


Tindakannya penuh perhitungan supaya tidak merugikan orang lain. Ia menyadari bahwa waktu tak akan bisa terulang kembali. Maka sudah sepatutnya dihabiskan dalam kebajikan.


Sungguh, waktu kita di dunia ini amatlah terbatas. Kematian akan memutus waktu dan kesempatan berbekal sebanyak mungkin untuk kehidupan akhirat. Seseorang yang sadar bahwa kematian akan memotong seluruh usaha dan amal, ia akan senantiasa beramal dan bekerja di masa hidupnya untuk memperoleh pahala dan ganjaran yang abadi.


Jika memiliki harta di dunia, ia akan berusaha untuk mewakafkannya. Menanam tanaman yang bisa dinikmati generasi penerus.Berusaha membangun keluarga yang bisa mendoakan ketika dirinya telah menghadap Allah SWT dan segala amalan yang pahalanya bisa dipetik tanpa henti.


Ia juga akan menulis buku yang bisa dibaca setiap orang setelahnya. Sebab, ia tak menginginkan kerugian.

Allah SWT menegaskan dalam Alquran betapa rugi manusia yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik. Kecuali bagi orang yang beriman, beramal kebajikan, dan yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS al-`Asr [103]: 1-3). Mereka itulah yang akan mendapatkan keuntungan.


Maka dari itu, gunakanlah setiap detik umur kita sebaik mungkin. Bersegeralah sebelum kesempatan itu lenyap. Berlombalah dengan waktu, lawanlah nafsu, taklukkan malas, dan carilah bekal sebanyak-banyaknya.Karena saat semuanya telah terlambat, takkan berguna lagi penyesalan di kemudian. Wallahu a'lam.


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah tentang memanfaatkan waktu :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/pfno1g313/memanfaatkan-waktu

Produk yang Diulas :
Jubah Isparta Abu Khaleed Apparel
Sep 10, 2021
Manfaat Berdzikir kepada Allah SWT


Dzikir memiliki beragam manfaat. Dzikir merupakan ibadah hati dan lisan yang tidak mengenal batasan waktu. Bahkan Allah memberikan sifat ulul albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa menyebut Rabnya, baik dalam keadaan berdiri, duduk bahkan juga berbaring. Berikut ini manfaat berdzikir kepada Allah SWT.


  • Zikir untuk mengingat Allah

Perhatikan Q.S. Thaha/20:14


إِنَّنِي أَنَا اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (14)

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku."


  • Berzikirlah, maka Allah akan melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, tanda Ia ingat pada hamba-Nya

Q.S.al-Baqarah/2:152فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ (152)

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat -Ku)."

  • Dengan berdzikir hati menjadi tenang

Perhatikan Q.S.ar-Ra’d/13:28:الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28)

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram/tenang."


Setelan Gamis Anak Hatay Abu




  • Allah SWT memuji hamba-Nya yang senantiasa berdzikir dalam segala keadaan

Q.S.Ali Imran/3:191:الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًاوَقُعُودًاوَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."


  • Sholat, bentuk dzikir lebih besar dari ibadah lainnya

Q.S.al-Ankabut/29:45:اُتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah salat. Sesungguh nya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/qi7yl0366/manfaat-berdzikir-kepada-allah-swt

Produk yang Diulas :
Setelan Gamis Anak Hatay Abu Khaleed Apparel
Sep 09, 2021
Alasan Mengapa Rasulullah SAW Tekankan Pentingnya Rasa Malu


Abu Mas'ud Uqbah Al-Anshari berkata: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama adalah: 'Bila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu" (HR Bukhari). 


Hadits ini sangat penting artinya bagi setiap Muslim, karena dalam hadits ini putaran-putaran ajaran Islam semuanya bertumpu. Hadits ini singkat redaksinya, tapi padat maknanya dan sarat akan pesan moral. Di dalamnya Rasulullah SAW mengingatkan kita akan pentingnya rasa malu, sebagai suatu sifat bagi bersandarnya akhlak-akhlak Islami.


Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai hadits ini. Setidaknya ada tiga pengertian. Pertama, dalam hadits ini Rasul mengeluarkan ancaman. Seakan-akan belia berkata bahwa kalau engkau sudah tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah apa yang kamu kehendaki, karena Allah SWT akan membalas perbuatan itu. Ungkapan seperti ini bukan sebuah perintah, tapi ancaman dan larangan.


Kedua, hadits ini memberikan berita bahwa bila seseorang tidak lagi memiliki rasa malu, maka ia akan melakukan apa saja yang dia kehendaki. Karena rasa malu adalah variabel yang dapat mencegah orang dari maksiat dan kekejian.


Ketiga, dibolehkannya melakukan suatu perbuatan kalau seseorang sudah tidak malu lagi, karena sesuatu yang tidak dilarang oleh syara' maka hukumnya boleh. Seperti diungkapkan oleh Imam Nawawi bahwa kita boleh melakukan apa saja selama tidak ada nash yang melarangnya.


Setelan Gamis Anak Hatay Maroon


Dari tiga makna ini, para ulama lebih cenderung untuk merujuk pada pengertian yang pertama bahwa hadits ini berbentuk ancaman. Ketika seseorang sudah tidak lagi memiliki rasa malu, maka Rasul mempersilakannya untuk melakukan segala sesuatu sekehendak hati.

Jadi, hadits ini bukan sebuah perintah agar kita bertindak sesuai kehendak hati. Hadits ini adalah peringatan sekaligus ancaman kepada mereka yang sudah tidak lagi memiliki rasa malu.


Muhammad Abdulrazak Al Mahili mengungkapkan, "Apabila kamu tidak malu kepada Allah SWT dan merasa tidak dilihat oleh-Nya, maka jerumuskan dirimu ke dalam berbagai macam larangan. Lakukan apa yang kamu suka". 


Hal ini sama dengan firman Allah SWT: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ 


''Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Fushshilat: 40).

Secara umum, rasa malu ada dua macam. Yaitu, malu sebagai sebuah tabiat atau pembawaan, yang dianugerahkan Allah SWT sejak manusia lahir. Yang kedua, malu yang tumbuh sebagai hasil usaha. Sabda Rasulullah SAW dalam hadits ini lebih merujuk pada malu dalam bentuk kedua.


Bila demikian, kita wajib merawat dan mengembangkan rasa malu ini dengan berusaha mengenal siapa Allah dan siapa diri kita.

Rasa malu adalah sumber kebaikan dan pembentuk akhlak mulia, selain sebagai harta warisan dari para utusan Allah terdahulu. Karena itu, malu menjadi salah satu pangkal keimanan seseorang. Betapa tidak, bila seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, maka ia berpotensi melakukan berbagai hal yang dilarang agama. 


Berikut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah :




SUMBER : https://www.republika.co.id/berita/qc48z4320/alasan-mengapa-rasulullah-saw-tekankan-pentingnya-rasa-malu


Produk yang Diulas :
Setelan Gamis Anak Hatay Maroon Khaleed Apparel